Bu Spica Tutuhatunewa

‘’Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan jasa’.

Jabatan konsul jendral jabatan ‘satu tangga’ lagi sebelum menjadi duta besar, tangga terakhir seorang karir diplomat RI sebelum kemudian pensiun dan menikmati jerih payah selama meniti karir di Departemen Luar Negeri di Pejambon. Dan tentunya tidak semua diplomat berakhir sebagai dubes karena jabatan ini tentu banyak yang mau oleh karena itu seperti ‘memanjat pohon berduri atau pohon berlumut yang tentu licin’ membutuhkan keuletan dan ketangguhan mental yang teruji.  Jabatan sebagai konjen jabatan yang biasanya selama tiga tahun di satu tempat, kemudian pulang ke Indonesia selama beberapa tahun sambil menunggu untuk ditunjuk sebagai duta besar!

Kepribadian jelas punya peranan penting dalam meniti kehidupan ini apalagi di Departenen Luar Negeri.

Ada konjen yang meninggalkan kesan

 serem, manis, ‘jaga jarak’, tapi untunglah sampai saat ini konjen yang bertugas di Melbourne semuanya meninggalkan kesan manis dan bagus dan jelas yang meninggalkan kesan ‘serem’ belum ada karena mungkin Deplu betul-betul memilih konjen yang akan ditugaskan di Melbourne bukan yang serem untuk menyesuaikan diri dengan kota Melbourne yang pernah dijuluki sebagai kota ‘paling layak tinggal di dunia!’

Bu Spica merupakan sosok yang unik dan satu-satunya konjen yang berasal dari Ambon dan juga sekaligus harus merayakan upacara sakral 17 Agustus 2020 secara virtual.  Asumsi yang biasanya ada dipikiran

 orang Indonesia tentang orang Ambon biasanya, jago main gitar, jago nyanyi dan galak. Atau untuk generasi diatas 50 tahun ke atas teringat sosok Marsekal Leo Watimena, pilot AURI legendaries di zaman Bung Karno.

Sosok Bu Spica Tutuhatunewa yang berperawakan kecil, ramah, dan lincah ini, mengingatkan kita kepada penyanyi lagendaris  Perancis, Edith Piaf. Dalam salah satu perpisahan makan malam bersama salah satu komunitas terbesar di Melbourne yaitu  Perwira, salah seorang peserta mengungkapkan salah satu sifat dari Bu Spica yaitu ‘egaliter’ seperti tidak segan-segan untuk ‘turba – turun ke bawah’,  dalam satu acara beliau langsung ikut campur mengatur piring di meja! Sesuatu yang belum pernah dilakukan seorang konsul jendral sebelumnya! Sikap seperti ini pada umumnya sesuai dengan karakter orang Australia yang egaliter di mana beliau ditugaskan!

Tapi juga Bu Spica bisa terus terang seperti biasanya orang Ambon karena dalam salah satu acara terbesar masyarakat Indonesia di Melbourne yaitu ‘Sate Festival’ , penulis meminta beliau membacakan puisi dengan sengaja memilih puisi yang ditulis oleh penyair Ambon, sebagai  ‘tipu muslihat’ dan sepertinya akan sulit sekali beliau menolaknya! Berhasil, tapi sempat beliau berkata ‘sebenarnya baca puisi ‘ is not my a cup of tea!’

Tapi kelihatannya beliau membatin ‘sialan, gimana nolaknya puisi Ambon?’ Hari itu memang kelihatan beliau tidak begitu menikmati membaca puisi tapi setelah kejadian di Sate Festival tsb, kelihatan ‘jelas’ Bu Spica yang egaliter dan terus terang, mulai kelihatan ‘menikmati’ baca puisi dalam acara-acara baca puisi’berikutnya! Terima kasih Bu Spica Tutuhatunewa!

Tapi yang cukup mengejutkan dari gerakan dan sepak terjang dari Konsul Jendral RI yang berperawakan seperti Edith Piaf ini adalah waktu memberikan penghargaan kepada enam sosok diaspora Indonesia yang dianggap yang sudah berbuat ‘sesuatu’ kepada tanah air tercinta, Indonesia. Ke-enam sosok diaspora tersebut adalah; Sylvia Wantania (VILTA), Marthin Nanere (BAIK ), Nika Suwarsih (Volunteer  Champion Awards Winner), William Harjanto (Tasmania), A. Alimin (JPS) dan PPIA Tasmania.

Dan yang lebih uniknya lagi adalah tidak semua atau semua dari mereka  tahu bahwa mereka akan diberikan ‘Sertifikat Penghargaan’ yang berbunyi: ‘ Sertifikat Penghargaan ini diberikan kepada Bapak/Ibu……………………………atas kontribusi, dedikasi dan peran aktifnya dalam memajukan citra Indonesia di Victoria dan Tasmania melalui beragam aktifitas kemasyarakatan maupun social budaya.’dan ‘Piagam Gelas’ dalam acara 17 Agustus 2020 kali ini tapi yang mengharukan adalah acara khidmat ini harus dilakukan secara virtual karena adanya ‘kuncitara/lockdown’ dan hanya tiga orang yang hadir di ruangan konsulat jendral Melbourne – Bu Spica Tutuhatunewa alias Edith Piaf beserta dua staf.

Sejarah yang selalu yang mampu menjadi ‘hakim’ yang adil. Walaupun kata orang sejarah ditulis oleh si pemenang tapi dalam hal ini tidak ada yang menang tapi yang ada hanya sosok yang pergi dan orang yang ditinggal. Orang atau sosok yang pergi itu adalah sosok yang sudah meninggalkan ‘belang’ yaitu sifat Égaliter’.  Terima kasih Bu Spica dan semoga nanti ditunjuk menjadi duta besar di negara yang lebih besar dan seindah kota Melbourne.  Selamat bertugas dan semoga selalu sukses!

Ambon Manangise (tidak tercantum siapa penyairnya – Google)

Batu karang manangis
Air masing manangis
Gunung deng tanjong juga manangis
Ambon manangis e
Iyo, dari kota hingga kabupaten iko manangis

Yang manis e hanya tenda pengunsi
Sioo, kasihan ana-anak kacil
Barmaing jadi sadiki tagal traumatik
Kalo ada moyang-moyang yang sadis
Kanapa musti bagini paskali?

Jujur, tragedi bencana harus jadi intropeksi
Sapa yang seng bae diri mari benahi
Bukan par orang Tial atau Lateri
Tapi par Maluku yang katong sayangi
Ini tabaos dari hati biar seng cakadidi

Ada tampa garam deng tungku api
Mari kas manyala diatas panci
Lalu duduk bacarita bukan irihati
Beta sayang ale paskali
Karna Sagu akan masih putih
camkan dalam diri.

Anton Alimin

antonalimin

Bagikan:

Tags

Related Post